Yang bisa ditiru dari Obama dan tidak dari McCain

Kemenangan telak Obama memang dianggap luar biasa oleh Amerika dan dunia. Terlepas dari isu rasisme yang begitu santer, Obama masih tetap bisa menang dikarenakan beberapa hal:

1. Masyarakat Amerika pintar memilih mana calon yang akan membawa negara mereka ke kemajuan atau kepada kehancuran.
2. Perubahan demografi masyarakat selama bepuluh-puluh tahun, sehingga kaum mudanya lebih obyektif dan imigran menjadi menentukan.

Terlepas dari itu, menurut masyarakat Amerika, Obama bisa menang karena:
1. Dia selalu melakukan positive campaign, terfokus pada isu-isu di masyarakat dan... konsisten!
2. Dia pandai memilih pendamping (VP) dan merangkul lawan menjadi kawan, seperti Clinton dan para petinggi partai Demokrat.
3. Dia punya track record baik dan dianggap cerdas oleh masyarakat Amerika.
4. Dia rajin turun ke tempat-tempat yang sebelumnya tidak dibina dengan baik oleh Demokrat. Kerajinan berbuah manis.

Masih kata orang Amerika, Mc Cain jatuh karena:
1. Dia mengandalkan semangat golongan kanan (right winger) secara berlebihan, dan menanggap orang Amerika semuanya sama.
2. DIa tidak sensitif terhadap isu-isu berkembang dan cenderung tidak punya pendapat sendiri yang bisa dilihat oleh masyarakat
3. Kampanyenya terfokus menjatuhkan lawan, sehingga praktis dia selalu menjadi bidak hitam, bukan putih yang mengatur jalannya pertandingan.
4. Dia salah pilih pasangan.

Pertanyannya:
Apakah hal-hal seperti ini terjadi pula di Indonesia. A Bit hard to say that, but, that's what had happened in Indonesia.
Bukan serangan fajar, intimidasi, penghinaan yang diperlukan, tapi sensitifitas pemimpin sebagai pelayan masyarakat, track recordnya di masa lalu, serta siapa pasangannya.
Tidak mungkin yang bertahun-tahun adalah preman lalu mendadak jadi malaikat. TIdak mungkin juga menjanjikan perubahan besar, kalau dirinya tidak berubah secara besar-besaran duluan.

So, buat demokrasi, layar terkembang untuknya.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa