Pengawasan terhadap patogen Escherichia coli

Salah satu bakteri yang sering dibicarakan adalah Escherichia coli. Bakteri ini sudah sangat lama dikenal sebagai salah satu patogen penting bagi manusia, utamanya disebabkan mengkonsumsi pangan yang tidak higienis.

E. coli termasuk dalam kategori re-emerging pathogens, dikarenakan telah lama dikenal, namun outbreaknya selalu terjadi dan strain baru semakin banyak ditemukan. Salah satu yang terkenal adalah E coli penghasil toksin shiga-like (ETEC, STEC). Inilah yang sedang dikuatirkan Australia saat perayaan Natal dan Tahun Baru kali ini.

Gambar dari KSU.edu, menggambarkan struktur dari shiga-toxin yang dihasilkan E. coli.

Pengawasan Patogen
Dalam teori Surveillance of pathogenic outbreak, atau pengawasan terhadap kejadian (sakit) yang disebabkan patogen, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan. Dalam tulisan saya yang dimuat di Jurnal of Natural Science edisi Desember 2008, ada beberapa bahasan penting seputar pengawasan terhadap permasalahan outbreak patogen ini.

Dalam kejadian yang terisolir, pengawasan ketat dapat dilakukan dengan mengunjungi lokasi dalam jangka waktu yang ditetapkan. Misalnya, ada sebuah kejadian dari ETEC di Afrika yang diamati oleh Putnam et al (2004). Dalam upaya untuk mendapatkan data yang benar, Putnam et al (2004) menetapkan kunjungan setiap dua minggu sekali di sebuah desa kecil untuk tiga periode waktu selama tahun 1995 dan 2000. Rekaman data termasuk gejala muntah dan diare serta menu makanan dan sampel air dikorelasikan dengan kejadian. Namun, pengamatan yang ketat hanya dapat dilakukan di wilayah yang sangat terbatas, dan tidak efektif untuk wilayah yang lebih luas.

Enterotoxigenic E. coli dapat menyebabkan diare ringan hingga parah. Akan tetapi, pencatatan kejadian terhadap infeksi E. coli ini ternyata menjadi sebuah masalah berkaitan dengan akurasi data statistiknya. Di banyak negara, jumlah wabah sebenarnya seringkali tidak dilaporkan (under reported). Oleh karena itu, Adam dan Moss (2000) mengusulkan bahwa sistem pemberitahuan dan pelaporan harus disiapkan.


Gambar dari EJPAU, salah satu penyedia jurnal online gratis asal Polandia.

Tingkat pengumpulan data dalam Pengawasan Patogen
Saat ini, ada empat kemungkinan tingkat informasi dalam kaitannya dengan kejadian (outbreak):
  1. Tanpa pemberitahuan lebih lanjut (konfirmasi) dari mikrobial yang terlibat;
  2. Pelaporan hanya kasus yang dikonfirmasi sebagai foodborne disease, disertakan dengan data uji laboratorium;
  3. Melaporkan semua kasus penyakit gastrointestinal, sekalipun beberapa diantaranya tidak disebabkan oleh patogen yang berasal dari pangan; atau
  4. Pelaporan dalam kaitannya dengan kasus Salmonellosis, yang memiliki gejala serupa dengan wabah ETEC.

Membangun Mekanisme Pengawasan
Berkenaan dengan kondisi lokal Kalimantan Timur, kejadian penyakit yang berasal dari kontaminasi pangan diduga cukup tinggi. O.K.I kita perlu membuat sistem pelaporan baik dari kejadian/wabah. Pelaporan harus melibatkan unit kesehatan untuk melaporkan insiden yang berkaitan dengan Foodborne Disease. Pendekatan lain yang mungkin dapat dilakukan dalam waktu singkat adalah mendorong orang untuk melaporkan penyakit perut, yang mungkin disebabkan oleh konsumsi makanan tertentu.

Informasi lebih detil seputar STEC:
1. Artikel di Jurnal EJPAU
2. Anda dapat menghubungi saya untuk mendapatkan Full paper yang telah dipublikasikan di Jurnal of Natural Science.

Comments

Popular posts from this blog

Nilai gizi pada jagung dan turunannya

Kembali ke akar: Penggalan Cerita dari Muara Ancalong

Melanjutkan Tradisi Generasi Emas Smansa